Disusun oleh :
1. Asri
Septiya Utama
2. Bahtiar
Fauzi Muwaffaq
3. Mutia
Alik Husna
4. Prahesa
Sigit Herwiyanu
5. Trena
Ita Utami
Kelompok Otto Iskandar Dinatta
Kelas :
XII IPA 3
UPTD SMAN 1 DUKUHWARU
JL. PRAMUKA
No.48 KECAMATAN DUKUHWARU KABUPATEN TEGAL
TAHUN AJARAN 2014/2015
Kata Pengantar
Prakata
Puji
Syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, yang telah memberikan rahmat, nikmat,
serta hidayahnya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini.
Dengan
demikian kami dapat menyelesaikan makalah kami ini untuk menuulis perkembangan
ilmu pengetahuan dan teknologi pada masa orde baru.
Dalam
pembuatan makalah ini kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang
telah membantu kami.
Seperti
kata pepatah, “Tak ada gading yang tak retak”, hasil kami tidaklah sesempurna
apa yang di inginkan pembimbing. Namun, kami sudah berusaha semaksimal mungkin.
Untuk itu kritik dan saran sangat kami butuhkan untuk memperbaiki makalah ini.
Oleh
karena itu, kami berharap semoga makalah ini dapat menjadi bacaan yang
bermanfaat bagi semua.
Penulis
Daftar
Isi
Judul
……………………………………………………………………………………... 1
Kata Pengantar ………………………………………………………………………….. 2
Daftar Isi ………………………………………………………………………………... 3
BAB I PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
…………………………………………………………………. 4
B.
Tujuan Masalah ………………………………………………………………… 4
C.
Teknik Penulisan ………….……………………………………………………. 4
BAB II PEMBAHASAN
A.
Sistem Informasi dan Komunikasi pada
Masa Orde Baru ...………………...…. 5
B.
Perkembangan Media Komunikasi Massa di
Indonesia ...……………………... 6
C.
System Komunikasi Satelit Domestic
(SKSD) Palapa ………………………… 9
D.
Radio …………………………………………………………………………… 10
E.
Televisi ………………………………………………………………………… 12
BAB III PENUTUP
A.
Simpulan ……………………………………………………………………. 13
B.
Saran …………………………………………………………………………... 13
DAFTAR PUSTAKA
…………………………………………………………………. 14
BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang Masalah
1. Ingin
mengetahui tentang perkembangan ilmu teknologi informasi dan komunikasi pada
masa orde baru
2. Orde
baru merupakan awal perkembangan ilmu teknologi
3. Pada
masa orde baru perkembangan teknologi menampakan kemajuan
4. Sejak
dimulainya orde baru teknologi menjadi semakin berkembang di Indonesia
5. Media
mulai berkembang secara pesat di Indonesia pada masa orde baru
B.
Tujuan
Masalah
1. Menjelaskan
hubungan antara revolusi hijau dengan ilmu pengetahuan teknologi
2. Menjelaskan
teknologi informasi dan komunikasi pada masa orde baru
3. Menjelaskan
perkembangan IPTEK pada masa orde baru
C.
Teknik
Penulisan
Dalam
penyusunan makalah ini, metode yang kami gunakan untuk mengumpulkan data adalah
Teknik Online
Yaitu mengumpulkan data dengan cara
mencari tahu tentang obyek wisata tersebut melalui bantuan search engine google
maka kita akan menemukan banyak sekali postingan tentang obyek wisata yang kita
cari tersebut.
BAB
II
PEMBAHASAN
A.
Sistem
Informasi dan Komunikasi pada Masa Orde Baru
Teknologi
informasi merupakan gabungan antara teknologi perangkat keras (hardware) dan
perangkat lunak (software). Pengembangan
teknologi hardware cenderung menuju ukuran yang kecil dengan kemampuan serta kapasitas yang tinggi. Namun diupayakan harga yang
relatif semakin murah. Perkembangan
teknologi informasi dapat meningkatkan kinerja dan memungkinkan berbagai
kegiatan dapat dilaksanakan dengan cepat, tepat dan akurat sehingga dapat
meningkatkan produktivitas kerja. Perkembangan teknologi informasi telah
memunculkan berbagai jenis kegiatan yang berbasis pada teknologi, seperti :
e-government, e- commerce, e-education, e-medicine, e-laboratory, dan lainnya,
yang kesemuanya itu berbasiskan elektronika.
Teknologi
Informasi adalah suatu teknologi yang digunakan untuk mengolah data, meliputi :
memproses, mendapatkan, menyusun, menyimpan, memanipulasi data dengan berbagai
cara untuk menghasilkan informasi yang berkualitas. Informasi yang dibutuhkan
akan relevan, akurat, dan tepat waktu, yang digunakan untuk keperluan pribadi,
bisnis, dan pemerintahan yang strategis untuk pengambilan keputusan. Teknologi
ini menggunakan seperangkat komputer untuk mengolah data, sistem jaringan untuk
menghubungkan satu komputer dengan komputer yang lainnya sesuai dengan
kebutuhan.
Dengan
ditunjang teknologi informasi
telekomunikasi data dapat disebar dan diakses secara global. Peran yang dapat
diberikan oleh aplikasi teknologi informasi ini adalah mendapatkan informasi
untuk kehidupan pribadi seperti informasi tentang kesehatan, hobi, rekreasi,
dan rohani. Kemudian untuk profesi seperti sains, teknologi, perdagangan,
berita bisnis, dan asosiasi profesi. Sarana kerjasama antara pribadi atau
kelompok yang satu dengan pribadi atau kelompok yang lainnya tanpa mengenal
batas jarak dan waktu, negara, ras, kelas ekonomi, ideologi atau faktor lainnya
yang dapat menghambat bertukar pikiran. Perkembangan teknologi informasi memacu suatu cara baru dalam
kehidupan, dari kehidupan itu dimulai sampai dengan berakhir, kehidupan seperti
ini dikenal dengan e-life, artinya kehidupan ini sudah dipengaruhi oleh
berbagai kebutuhan secara elektronik. Sehingga sekarang sedang semarak dengan
berbagai terminologi yang dimulai dengan awalan e seperti e-commerce,
e-government, e-education, e-library, e-journal, e-medicine, e-laboratory,
e-biodiversitiy, dan yang lainnya lagi yang berbasis elektronika.
Ekonomi
global juga mengikuti evoluasi dari agraris dengan ciri utama tanah merupakan
faktor produksi yang paling dominan. Melalui penemuan mesin uap, ekonomi global
ber-evolusi ke arah ekonomi industri dengan ciri utama modal sebagai faktor
produksi yang paling penting. Abad sekarang, cenderung manusia menduduki tempat
sentral dalam proses produksi berdasar pada pengetahuan (knowledge based) dan
berfokus pada informasi (information focused). Telekomunikasi dan informatika
memegang peranan sebagai teknologi kunci
(enabler technology). Perkembangan teknologi
informasi yang begitu pesat, memungkinkan diterapkannya cara-cara yang
lebih efisien untuk produksi, distribusi, dan konsumsi barang dan jasa. Proses
inilah yang membawa manusia ke dalam masyarakat atau ekonomi informasi sering
disebut sebagai masyarakat pasca industri. Pada era informasi ini, jarak fisik atau
jarak geografis tidak lagi menjadi faktor penentu dalam hubungan antar manusia
atau antar lembaga usaha, sehingga dunia ini menjadi suatu kampung global atau
Global Village.
B.
Perkembangan
Media Komunikasi Massa di Indonesia
Komunikasi
massa dikenal di Indonesia sejak abad ke-18, tahun 1744 ketika sebuah surat
kabar bernama Bataviasche Nouvelles diterbitkan oleh pengusahaan Belanda.
Kemudian terbit Vendu Niews tahun 1776 yang mengutamakan diri pada berita
pelelangan. Ketika memasuki abad ke-19, terbit berbagai surat kabar lainnya
yang semuanya diusahakan oleh orang-orang Belanda untuk para pembaca Belanda
dan segelintir kaum pribumi yang mengerti bahasa Belanda. Kemudian media massa
yang dikelola oleh pribumi mulai dengan terbitnya majalah Bianglala tahun 1854
dan Bomartani 1885, keduanya di Weltevreden. Selain itu pada tahun 1856 terbit
Soerat kabar Bahasa Melajoe di Surabaya. Umumnya media itu terbit di Jawa. Ini
dikarenakan percetakan sebagai sarana yang sangat vital untuk menerbitkan media
hanya ada di Jawa. Itu sebabnya pers di Sumatera dan pulau-pulau lainnya
berkembang belakangan. Di Padang misalnya muncul terbit pertama kalinya Pelita
Kecil tahun 1882 dan Partja Barat tahun 1892. Kaum pribumi kemudian mulai
banyak menerbitkan media sendiri pada abad ke-20.
Setelah
kemerdekaan, kehidupan pers ikut menikmati kemerdekaan dengan bebas dari
berbagai tekanan. Media pun bermunculan seperti cendawan di musim hujan.
Seperti di Jakarta terbit Merdeka pada 1 Oktober 1945, di Yogyakarta terbit
Kedaulatan Rakya tahun 1945, di Surabaya terbit Jawa Pos tahun 1949 dan
Surabaya Pos tahun 1953. Tetapi suasan bebas ini hanya berlangsung selama masa
Demokrasi Liberal (1945-1959). Setelah itu muncul Demokrasi terpimpin
(1959-1965), pada masa ini banyak pembatasan terhadap kehidupan pers, kerenanya
pers Indonesia pada masa itu boleh disebut sebagai pers otoriter. Kemudian pers
di Indonesia kembali sedikit menerima udara bebas pada masa Orde Baru lahir
tahun 1966 dan keadaan ini berlangsung hingga tahun 1974. Hal ini terlihat
dengan terbitnya kembali sejumlah surat kabar yang pada masa Demokrasi
Terpimpin pernah di berdel, yaitu Merdeka (Juni 1966), Berita Indonesia (Mei
1966), Indonesia Observer (September 1966), Nusantara (Maret 1967), Indonesia
Raya (Oktober 1968), Pedoman (November 1968) dan Abadi (Desember 1968).
Pada
masa Orde Baru pers Indonesia disebut sebagai pers pancasila, cirinya adalah
bebas dan bertanggungjawab. Di mana selanjutnya mendapat penegasan dari Tap MPR
No.IV/1973 dan Tap MPR No.III/1983 agar pers di Indonesia dijadikan sebagai
pers sehat, yaitu pers yang menjalankan fungsinya sebagai penyebar infomasi
yang objektif, menyalukan aspirasi rakyat serta memperluas komunikasi dan
partisipasi rakyat.
Aturan
yang menindas pers itu terus dilestarikan pada era Soeharto, represi sudah
dijalankan bahkan sejak pada awal era Orde Baru yang menjanjikan keterbukaan.
Sejumlah Koran menjadi korban, antara lain majalah Sendi terjerat delik pers,
pada 1972, karena memuat tulisan yang dianggap menghina Kepala Negara dan keluarga.
Surat ijin terbit Sendi dicabut, pemimpin redaksi-nya dituntut di pengadilan.
Setahun kemudian, 1973, Sinar Harapan, dilarang terbit seminggu karena dianggap
membocorkan rahasia negara akibat menyiarkan Rencana Anggaran Belanja yang
belum dibicarakan di parlemen.
Pengekangan
terhadap pers kembali terjadi pada 1978, berkaitan dengan maraknya aksi
mahasiswa menentang pencalonan Soeharto sebagai presiden. Sebanyak tujuh surat
kabar di Jakarta (Kompas, Sinar Harapan, Merdeka, Pelita, The Indonesian Times,
Sinar Pagi dan Pos Sore) dibekukan penerbitannya untuk sementara waktu hanya
melalui telepon, dan diijinkan terbit kembali setelah masing-masing pemilik
Koran tersebut meminta maaf kepada pemimpin nasional (Soeharto).
Pada
era Soeharto terdapat tiga faktor utama penghambat kebebasan pers dan arus
informasi: adanya sistem perizinan terhadap pers (SIUPP), adanya wadah tunggal
organisasi pers dan wartawan, serta praktek intimidasi dan sensor terhadap
pers. Faktor-faktor itulah yang telah berhasil menghambat arus informasi dan
memandulkan potensi pers untuk menjadi lembaga kontrol.
Jatuhnya
Soeharto ternyata tidak dengan sendirinya mengakhiri berbagai persoalan.
Periode transisi, di era Presiden Habibie berlanjut ke Presiden Abdurrahman
Wahid, suasana keterbukaan justru memunculkan berbagai persoalan baru yang
lebih kompleks, tidak sekadar hitam-putih.
Rezim
Habibie, tidak punya pilihan lain, selain harus melakukan liberalisasi dan itu
pun bukan tanpa ancaman. Era Abdurrahman Wahid memperlihatkan kesungguhan untuk
mengadopsi kebebasan pers, namun masih harus ditunggu sejauh mana keseriusan
rezim Gus Dur-Megawati menegakkan kebebasan pers, mengingat basis pendukung dua
pemimpin ini (Banser NU dan Satgas PDI Perjuangan) kini terbukti cenderung
merongrong kebebasan pers melalui aksi-aksi intimidasi terhadap pers. Ancaman
terhadap kebebasan pers yang semula datang dari pemerintah melalui berbagai
aturan represif, beralih wujud melalui tekanan massa serta ancaman internal:
tumbuhnya penerbitan pers yang sensational dan tidak mengindahkan etika.
Departemen
Penerangan, lembaga kontrol yang dua dasawarsa lebih menjadi hantu pencabut
nyawa bagi Pers, dibubarkan oleh Presiden Abdurrahman Wahid, pada Oktober 1999.
Presiden Wahid yang baru terpilih itu menegaskan, informasi adalah urusan
masyarakat, bukan lagi menjadi urusan pemerintah. Pembubaran Departemen
Penerangan menandai hilangnya kontrol negara, selanjutnya siapa mengontrol
pers? Babak baru perkembangan pers Indonesia sedang berlangsung, belum ketahuan
ke mana arahnya, banyak catatan sejarah pers di Indonesia berada pada titik
rekaman tekanan dan intimidasi. Pers Indonesia terperangkap dalam ranjau-ranjau
peraturan dan sensor yang dipasang pemerintah. Pengalaman di Indonesia,
kebebasan itu seakan-akan merupakan berkah atau hadiah dari penguasa baru yang
muncul menggantikan penguasa otoriter sebelumnya. Kebebasan pers setelah masa
reformasi membawa peluang besar bagi kelompok pengusaha.
Era
reformasi telah membuka kesempatan bagi pers Indonesia untuk mengekplorasi
kebebasan. Dampak yang kemudian terlihat, kebebasan itu untuk sebagian media,
bukannya diekplorasi melainkan dieksploitasi. Sejumlah kebingungan dan
kejengkelan terhadap kebebasan pers di era reformasi ini bisa dipahami. Kini
media bebas untuk mengumbar sensasi, informasi yang diedarkan adalah yang
bernilai jual tinggi, dikemas dengan gaya sensasi. Akibat ketiadaan otoritas
yang memiliki kewenangan untuk menegur atau menindak pers, maka “publik”
kemudian menjalankan aksi menghukum pers sesuai tolok ukur mereka sendiri.
Era
reformasi kini telah memproduksi media massa berorientasi populis, mengangkat
soal-soal yang digunjingkan masyarakat. Akibatnya seringkali media massa
menyebarkan informasi yang sebenarnya berkualifikasi isu, rumor bahkan
dugaan-dugaan (hingga cacian dan hujatan). Pada ekstrim yang lain terdapat pula
pers yang diterbitkan untuk tujuan politis: mempengaruhi dan membujuk
pembacanya agar sepakat dan ikut dengan ideologi dan tujuan politisnya, atau
bahkan menyerang dan membungkam pihak lawan.
Media
massa sebagai penyalur informasi mengemas apapun yang bisa diinformasikan,
asalkan itu menyenangkan dan sedang menjadi gunjingan publik. Gaya media
semacam ini kemudian mendapat reaksi sepadan dari kelompok masyarakat tertentu
yang cenderung radikal dan tertutup, atau kelompok-kelompok yang mengklaim
kebenaran sebagai milik mereka. Jika pemberitaan media tidak menyenangkan
pihaknya atau kelompoknya, maka jalan pintasnya adalah melabrak dan mengancam
yang ternyata memang terbukti sangat efektif bahkan sampai pada masa
Pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudoyono kondisi komunikasi massa di
Indonesia tampak jauh lebih baik dari sisi penyajiannya, namun sampai saat ini
banyak materi-materi yang disajikan, menyimpang dari apa yang dicita-citakan.
Hal ini ditandai dengan semakin banyaknya media cetak maupun elektronik hadir
dikalangan masyarakat, yang orientasinya lebih kepada meraut keuntungan dunia
usaha
##Hapus kalimat yang diawali dengan tanda pagar ini, by Asri Septiya Utama##
##Hapus kalimat yang diawali dengan tanda pagar ini, by Asri Septiya Utama##
C.
System
Komunikasi Satelit Domestic (SKSD) Palapa
Dalam
pembangunan ilmu pengetahuan dan tekhnologi di Indonesia dilakukan pembangunan
system komunikasi satelit domestic (SKSD) untuk keperluan komunikasi.
Pembangunan satelit itu dimulai tahun 1975 dan selesai tahun 1976. Satelit itu
diberi nama palapa yang diambil dari sumpah mahapatih gajah mada untuk
menyatukan nusantara. SKSD Palapa merupakan suatu system satelit komunikasi
yang dikendalikan oleh system pengendali yang ada di bumi, yang mempunyai
fungsi sebagai sarana dalam berbagai aktivitas komunikasi.
Satelit
komunikasi mempunyai masa kerja tertentu, satelit yang masa kerjanya sudah
habis harus diganti dengan satelit generasi baru. Generasi pertama dari SKSD
Palapa adalah Palapa A-1 yang diluncurkan pada tanggal 18 juli 1976.
Berturut-turut dari generasi satelit yang diluncurkan adalah
- Palapa A-2 (10 Maret 1977).
- Palapa B-1 (19 Juni 1983).
- Palapa B-2 (6 February 1984).
- Palapa B-2P ( 20 Maret 1987).
- Palapa B-2R (20 Maret 1990).
- Palapa B-4 (7 Mei 1992).
- Palapa C-1 (February 1996).
- Palapa C-2 yang diluncuran pada tanggal 16 mei 1966.
- Sekarang ini, kita juga mengenal satelit komunikasi yang lain yakni telkomsel-1 dan garuda-1.
Jangkauan
dari satelit palapa C-2 meliputi wilayah dari Irian sampai Vladiwostok (Rusia)
dan dari Australia sampai selandia baru. Melalui SKSD Palapa, hubungan
komunikasi antar daerah dan antarnegara menjadi lebih mudah. System komunikasi
tersebut memungkinkan bangsa Indonesia mengetahui berbagai informasi yang
disajikan melalui televise secara cepat.
D.
Radio
Radio
siaran pertama di Indonesia (waktu itu bernama Nederlands Indie-Hindia
Belanda), ialah Bataviase radio siaran Vereniging (BRV) di Batavia (Jakarta
tempo dulu) yang resminya didirikan pada tanggal 16 juni 1925 pada saat
Indonesia masih dijajah Belanda dan berstatus swasta. Setelah BRV berdiri
secara serempak berdiri pula badan-badan radio siaran lainnya di kota
Yogyakarta, Surakarta, Semarang, Surabaya dan yang paling terbesar dan
terlengkap adalah radio NIROM (Nederlandsch Indische Radio Omroep Mij) di
Jakarta, Bandung, dan Medan, karena mendapat bantuan dari pemerintah Hindia
Belanda. Sebagai pelopor timbulnya radio siaran usaha bangsa Indonesia adalah
Solosche Radio Vereniging (SRV) yang didirikan di kota Solo pada tanggal 1
April 1933 oleh Mangkuneoro VII dan Ir. Sarsito Mangunkusumo.
Ketika
Belanda menyerah pada Jepang tanggal 8 Maret 1942, sebagai konsekuensinya,
radio siaran yang tadinya berstatus perkumpulan swasta dinonaktifkan dan diurus
oleh jawatan khusus bernama Hoso Kanri Kyoku, merupakan pusat radio siaran yang
berkedudukan di Jakarta, serta mempunyai cabang-cabang yang bernama Hoso Kyoku
di Bandung, Purwakarta, Yogyakarta, Surakarta, Semarang, Surabaya, dan Malang.
Rakyat Indonesia pada masa ini hanya boleh mendengarkan siaran Hoso Kyosu saja.
Namun demikian di kalangan pemuda terdapat beberapa orang dengan risiko
kehilangan jiwa, secara sembunyi-sembunyi mendengarkan siaran luar negeri,
sehingga mereka dapat mengetahui bahwa pada 14 Agustus 1945 Jepang telah
menyerah kepada sekutu.
Dengan
demikian, ketika Bung Karno dan Bung Hatta memproklamirkan kemerdekaan
Indonesia, tidak dapat disiarkan langsung melalui radio siaran karena radio
siaran masih dikuasai oleh Jepang. Teks proklamasi kemerdekaan Indonesia baru
dapat disiarkan dalam bahasa Indonesia dan Inggris pukul 19.00 WIB namun hanya
dapat didengaroleh penduduk disekitar Jakarta. Baru pada tanggal 18 Agustus
1945, naskah bersejarah itu dapat dikumandangkan kelluar batas tanah air dengan
risiko petugasnya diberondong senjata serdadu Jepang. Tak lama kemudian dibuat
pemancar gelap dan berhasil berkumandang di udara radio siaran dengan station
call”Radio Indonesia Merdeka”. Dari sinilah Wakil Presiden Mohammad Hatta dan
pimpinan lainnya menyampaikan pidato melalui radio siaran yang ditujukan kepada
rakyat Indonesia.
Pada
tanggal 11 September 1945 diperoleh kesepakatan dari hasil pertemuan antara
para pemimpin radio siaran untuk mendirikan sebuah organisasi radio siaran.
Tanggal 11 September itu menjadi hari ulang tahun RRI (Radio Republik
Indonesia).
Sampe
akhir tahun 1966 RRI adalah satu-satunya radio siaran di Indonesia yang dikuasai
dan dimiliki oleh pemerintah. Peran dan fungsi radio siaran ditingkatkan.
Selain berfungsi sebagai media informasi dan hiburan, pada masa orde baru,
radio siaran melalui RRI menyajikan acara pendidikan persuasi. Acara pendidikan
yang berhasil adalah “Siaran Pedesaan” yang mulai diudarakan pada bulan
September 1969 oleh stasiun RRI Regional. Selanjutnya, stasiun RRI Regional
juga membantu menginformasikan program-program pemerintah, seperti Keluarga
Berencana, transmigrasi, kebersihan lingkungan, imunisasi ibu hamil dan balita.
Sejalan dengan perkembangan social budaya serta teknologi, maka bermunculan
beberapa radio siaran amatir yang diusahakan oleh perorangan. Keadaan ini tidak
dapat dihindari, namun perlu ditertibkan. Pemerintah kemudian mengeluarkan
Peraturan Pemerintah No.55 Tahun 1970 tentang Radio Siaran Non Pemerintah.
Karena jumlah radio siaran swasta niaga semakin lama semakin banyak, serta
fungsi dan kedudukannya penting bagi masyarakat, maka pada tahun 1974
stasiun-stasiun radio siaran swasta niaga berhimpun dalam wadah yang dinamakan
Persatuan Radio siaran Swasta Niaga Indonesia (PRSSNI).
E.
Televisi
Kegiatan
penyiaran televisi di Indonesia dimulai pada tanggal 24 Agustus 1962,
bertepatan dengan berlangsungnya pesta olahraga se- Asia IV atau Asean Games di
Senayan. Sejak itu pula Televisi republik Indonesia (TVRI) dipergunakan sebagai
panggilan stasiun (station call) sampai sekarang (Effendy, pada Komala, dalam
Karlinah, dkk. 1999) Selama tahun 1962-1963 TVRI berada di udara rata-rata satu
jam sehari dengan segala kesederhanaannya.
Sejalan
dengan kepentingan pemerintah dan keinginan rakyat Indonesia yang tersebar
diberbagai wilayang agar dapat menerima siaran televise, maka pada tanggal 6
Agustus 1976, Presiden Soeharto meresmikan penggunaan satelit Palapa untuk
telekomunikasi dan siaran televisi. Dalam perkembangannya satelit Palapa A
selanjutnya Satelit Palapa B, Palapa B-2, Palapa B2P dan Palapa B-4 diluncurkan
tahun 1992 (Effendy, pada Komala, dalam Karlinah, dkk. 1999).
TVRI
yang berada di bawah, Departemen Penerangan, kini siarannya sudah dapat
menjangkau hampir seluruh rakyat Indonesia yang berjumlah 200 juta jiwa. Sejak
tahun 1989 TVRI mendapat saingan televise siaran lainnya, yakni RCTI yang
bersifat komersial. Kemudian secara berturut-turut berdiri stasiun televise
swasta lainnya seperti SCTV, TPI, ANTV , dll.
Meskipun
lima stasiun televisi sudah beroperasi, televise siaran tidaka akan pernah
menggeser kedududkan radio siaran, karena radio siaran memiliki karakteristik
tersendiri. Televise siaran dan rasio siaran, serta media lainnya berperan
salaing mengisi. Televise siaran menggeser radio siaran mungkin dalam hal porsi
iklan
BAB III
Penutup
A.
Simpulan
Tekhnologi informasi dan komunikasi
berkembang pesat di Indonesia, ini dapat dilihat dari perkembangan media massa
di Indonesia yang semakin pesat, bukan hanya itu tapi perkembangan radi,
satelit domestic, dan juga radio pun berkembang pesat.
B.
Saran
Bercermin
dari perkembangan teknologi pada masa orde baru kami dapat menyarankan kepada:
1. Pembaca
Sebaiknya setelah anda
membaca isi dari makalah ini anda mengerti tentang teknologi dan anda
diharapkan untuk terus belajar tentang teknologi agar kita tidak tertinggal
dalam bidang teknologi
2. Warga
Indonesia
Saya sarankan kepada warga
masyarakat Indonesia untuk terus mengembangkan pengetahuan teknologi agar
perkembangan teknologi Negara Indonesia terus memperoleh kemajuan, atau
sebaiknya kita semua terus berinovasi dibidang teknologi agar kita mendapatkan
manfaat dari inovasi-inovasi baru tersebut.
Daftar
Pustaka
1.
Nur Uzayr, Ahmad, “REVOLUSI HIJAU DAN
INDUSTRIALISASI PADA MASA ORDE BARU”, 7
Agustus 2014, http://sahabatanakcerdas.blogspot.com/2012/01/revolusi-hijau-dan-industrialisasi-pada.html
Septiya Utama, Asri, "Makalah Perkembangan Ilmu Teknologi Informasi dan Komunikasi pada Masa Orde Baru", 7 Agustus 2014, http://aseut.blogspot.com/2014/08/makalah-perkembangan-ilmu-teknologi_7.html
Comments
Post a Comment
Peraturan komentar diblog yang dikelola oleh saya :
1. Dilarang spam (jangan suka nyampah)
2. Dilarang promosi (jika mau promosi segala macam bayar)
3. Dilarang menghina atau sejenisnya (kalo mau ngehina liat diri anda!!!)
Tidak suka dengan peraturan, silahkan close tabnya!!!